OLEH : Pelangi perlipi
Gadis itu terduduk disamping halte bus bernomor 692,di sampingnya sebuah koper dan tas hitam . Angin musim dingin menerpanya perlahan. Dia tidur sembari merunduk dan sesekali aku harus membangunkannya. Sementara aku menatap gedung bertuliskan CASTLE PEAK BAY IMMIGRATION ,diseberang jalan yang menjaraki kami kala itu. Imigrasi Castle peak bay terletak didaerah Tuen mun. Hawa disana memang lebih dingin daripada daerah Cost way bay,namun tidak demikian perlakuan para petugas immigrasi menurut cerita kawanku ini. Dan pemerintah setempat telah memberinya izin tinggal Cuma-Cuma setelah ia memenangkan sidang overstay. Dan hari ini, ia akan dipulangkan secara gratis pula . Setengah jam lagi kami akan memasuki gedung castle peak imigration itu. Sebuah gedung dimana ia pernah dipenjarakan.Namun ia mendapat perlakuan baik sebagai narapidana kasus overstay di Hongkong.
“Bangunlah,mungkin roti dan sekotak teh yang mengandung lemon dapat mengurangi kantuk dan mualmu ,” kataku berusaha menyadarkan mabuknya.
“Nanti saja lah,aku masih ngantuk, ”katanya menolak sembari memegangi kepalanya.Dia mengambil permen karet rasa mint lalu mengunyahnya
“Ingat,kamu akan bertatap muka dengan petugas imigrasi. Dan Petugas bandara akan menggagalkan keberangkatanmu, jika mereka tahu, kau mabuk parah, ” kataku sambil menyodorkan sekotak teh lemon kepadanya.
Dia berusaha terbangun dari pengaruh alkhohol berkadar 43 % .Jika tidak, bisa saja mengacaukan kepulangannya hari itu ketanah air.Setengah jam lagi kami akan memasuki gedung castle peak imigration itu. Rasa khawatir berserak di hati kami,mengingat gadis itu belum nampak keluar dari pengaruh lingkaran minuman haram itu. Juga bagaimana bisa dia bertemu muka dengan para petugas imigrasi dalam keadaan muntah-muntah terus.
Alhamdulillah tak lama setelah ia minum teh ,pikirannya lebih sadar.Bahkan kantong plastik yang digunakkannya sebagai sarana untuk muntah ,juga sudah tak digunakannya lagi. Aku bisa melihat rona mukanya yang masih sedikit lesu.Kemudian ia merapihkan rambutnya,membiarkan helei-helainya tergerai dengan baik.
*****
Perlahan kami berjalan memasuki gedung ,sementara itu telah berdiri seorang penjaga gedung. Tempat itu terkesan formal dan masih sunyi. Senyum sang petugas mengurangi rasa asing kami. Begitupun rasa dingin yang mulai lenyap diareal gedung.
“cousan,hamai lei tei yui fan okgei koti a”(apa kalian yang akan pulang itu ya),petugas itu terlihat sopan. Senyumnya mengurangi rasa canggungku di tempat itu.
“cousan,hai a,goi”(selamat pagi,ya,dia).aku menunjuk kearah gadis itu.
“lei gam yat em fongka meh ?,” (apakah hari ini anda tidak libur ?)tanya gadis itu pada sang petugas. Karena memang hari itu adalah hari libur umum.
“yuko ngo fongka leh,hamai lei jikei kautim a?. Hahahaha”(jika saya libur,anda sendiri yang menyelesaikannya ),canda petugas itu padanya.
*****
Beberapa saat kemudian seorang petugas perempuan datang menyerahkan kontrak kerja dan pasport padanya. Gadis itu pun mengembalikan pepper. Selama ini Pepper menjadi surat izin tinggal ketika ia hidup overstay di Hongkong.
“lei yao mo jin a? ,$50 for check in your luggage . (apakah kamu memiliki uang ? $50 untuk check in kopermu),tanya petugas berompi hijau itu padanya.
“mo”(tidak),jawab gadis itu menggeleng.
“em sap em man to mo”(lima puluh dolar juga tidak ada),petugas parempuan itu makin mendekat dengan pandangan yang lebih meyakinkan kesungguhan si gadis.
Namun gadis itu tetap kekeuh “mo wo.” (Tidak ada loh).
"oke,” perempuan itu kemudian mengantar kawanku kesebuah pintu pendeteksi lalu ia berjalan melewati pintu itu. Setelah memastikan tidak ada ada benda cair di tas ataupun kopernya,kami meninggalkan ruang tunggu,dan dihalaman itu aku melihat saat terakhirku dengannnya. Ia masuk kedalam sebuah bus kecil. Di bus itu terdapat juga orang dari negara lain yang pernah mangadu nasib di negeri Panda itu.
Selamat jalan kawan.
09:30 a.m
Hongkong,25-12-2010